Beranda | Artikel
Khutbah Jumat: Tiga Golongan yang Tidak Diajak Bicara oleh Allah pada Hari Kiamat
16 jam lalu

Khutbah Jumat Singkat: Tiga Golongan yang Tidak Diajak Bicara oleh Allah pada Hari Kiamat ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada 19 Jumadil Awal 1448 H / 30 Oktober 2026 M.

Khutbah Jumat Pertama: Tiga Golongan yang Tidak Diajak Bicara oleh Allah pada Hari Kiamat

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ثَلاثةٌ لا يُكَلِّمُهمُ اللهُ يَومَ القيامةِ ولا يُزَكِّيهم ولَهم عَذابٌ أليمٌ: رَجُلٌ على فضلِ ماءٍ بالطَّريقِ يَمنَعُ منه ابنَ السَّبيلِ، ورَجُلٌ بايَعَ إمامًا لا يُبايِعُه إلَّا لدُنياه، إن أعطاه ما يُريدُ وفى له وإلَّا لَم يَفِ له، ورَجُلٌ يُبايِعُ رَجُلًا بسِلعةٍ بَعدَ العَصرِ، فحَلَفَ باللهِ لقد أُعطيَ بها كَذا وكَذا فصَدَّقَه، فأخَذَها، ولَم يُعطَ بها.

“Ada tiga orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak mensucikannya, dan bagi mereka adzab yang pedih: (1) Orang yang memiliki kelebihan air di jalan namun tidak mau memberi kepada ibnu sabil yang membutuhkannya. (2) Orang yang membai’at imamnya karena dunia semata. Jika diberi dunia ia laksanakan hak pemimpinnya dan jika tidak maka tidak mau melaksakan haknya. (3) Orang yang berjualan di waktu Ashar lalu ia bersumpah (dusta) bahwa ia membeli dengan harga sekian sekian lalu ia (pembeli) membenarkannya dan mengambilnya padahal tidak demikian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ancaman Menahan Kelebihan Air dari Musafir

Hadits tersebut menunjukkan besarnya ancaman bagi seseorang yang memiliki kelebihan air di perjalanan, namun enggan membagikannya kepada musafir yang membutuhkan. Perbuatan ini menunjukkan betapa besarnya sifat kikir dalam dirinya. Tidak halal bagi seorang Muslim menahan kelebihan air yang dimilikinya dari saudaranya yang sedang membutuhkan.

Seorang Muslim sepantasnya memiliki sifat pemurah dan dermawan. Ia hendaknya bersedia menginfakkan hartanya di jalan Allah serta membantu saudara sesama Muslim yang sedang berada dalam kesulitan. Ini pahalanya sangat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah bagaikan satu tubuh. Jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang muslim tidak boleh memiliki sifat bakhil. Seorang mukmin hendaknya menjadi pribadi yang pemurah dan dermawan, senantiasa membantu saudara-saudaranya sesama muslim, serta sigap berdiri menolong kebutuhan mereka. Maka dari itu pahalanya besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ

“Sungguh, aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk memenuhi hajatnya (keperluannya) itu lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid ini.” (HR. Ath-Thabrani)

Ancaman Membaiat Pemimpin Semata-mata karena Urusan Dunia

Golongan kedua yang diancam keras adalah orang yang membaiat imamnya semata-mata karena urusan dunia. Jika diberi dunia, maka dia laksanakan baiatnya, ia mendengar dan patuh. Namun, jika tidak diberi bagian dunia, ia menolak untuk mendengar dan taat.

Banyak orang pada zaman sekarang yang melakukan tindakan mencela, memaki, dan menentang pemimpin semata-mata demi kepentingan dunia. Perbuatan ini sangat dicela dalam syariat Islam. Ketaatan rakyat kepada pemimpin seharusnya bukan karena dunia, tapi diniatkan sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya dalam banyak hadits.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengambil baiat kepada para sahabat:

بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي عُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَمَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا

“Kami sudah membaiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk selalu mendengar dan taat kepada pemimpin, baik dalam keadaan susah maupun senang, saat kami bersemangat maupun terpaksa, serta ketika pemimpin lebih mementingkan dirinya atas kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Subhanallah.. Pahamilah bahwa ini adalah untuk kemaslahan yang sangat besar. Apabila seorang pemimpin berbuat zalim, tindakan mencaci maki dan memprovokasi massa untuk memberontak justru akan mendatangkan kerugian bagi diri sendiri. Berdasarkan sejarah, negeri-negeri yang rakyatnya melakukan pemberontakan terhadap pemimpin selalu mengalami kehancuran pada sektor ekonomi, politik, keamanan, serta ditimpa berbagai malapetaka. Hal tersebut terjadi akibat tidak mau mendengar, patuh, serta taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Maka kewajiban kita melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menaati pemimpin dalam perkara yang ma’ruf dan bukan dalam perkara kemaksiatan. Adapun kalau kita diperintahkan untuk maksiat, maka tidak boleh kita taati.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Ahmad)

Khutbah Jumat Kedua: Bahaya Membaiat Pemimpin karena Urusan Dunia

Sebagian orang berkilah bahwa mereka hanya mau taat kepada pemimpin yang berpedoman kepada Kitab Allah dan berhukum dengan hukum Allah saja—sambil menolak kepemimpinan yang ada—maka Islam telah memberikan panduan yang sangat jelas melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

سيكُونُ بعْدى أَئمَّةٌ لَا يهْتدُون بِهَدْيي، ولَا يسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى، وسيقُومُ رِجالٌ قُلُوبُهُم قُلُوبُ رجالٍ شَياطين في جُثْمان إِنْسانٍ

“Akan ada setelahku para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku, dan akan bangkit di antara mereka orang-orang yang hati mereka adalah hati setan dalam jasad manusia.”

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Apa yang harus aku lakukan, wahai Rasulullah, jika aku mendapati masa seperti itu?”

Beliau bersabda:

تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضَرَبَ ظَهْرَكَ وَأَخَذَ مَالَكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Engkau dengar dan taat kepada pemimpin, meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, maka tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslim)

Inilah perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kewajiban umat Islam adalah mendengarkan dan menaati. Meskipun hal tersebut terasa berat dan tidak sesuai dengan hawa nafsu maupun keinginan, ketetapan tersebut mengandung pahala kemaslahatan besar yang telah disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Kesabaran dalam menghadapi ujian kepemimpinan akan mendatangkan pahala yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan memberikan jalan keluar yang terbaik, karena Allah senantiasa membersamai orang-orang yang sabar.

Sumpah Dusta Diwaktu Ashar

Sebagian orang melakukan transaksi jual beli pada waktu ashar—yang merupakan waktu sangat mulia—namun diisi dengan kecurangan. Seorang penjual bersumpah dusta mengenai modal barang dagangannya agar pembeli mempercayainya, padahal kenyataannya tidak demikian.

Umat Islam harus berhati-hati, karena bersumpah atas nama Allah secara dusta termasuk ke dosa besar. Terlebih lagi apabila perbuatan curang tersebut dilakukan pada waktu ashar, maka dosanya akan jauh lebih besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Download mp3 Khutbah Jumat: Tiga Golongan yang Tidak Diajak Bicara oleh Allah pada Hari Kiamat

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download “Khutbah Jumat: Tiga Golongan yang Tidak Diajak Bicara oleh Allah pada Hari Kiamat” ini kepada saudara Muslimin kita baik itu melalui Facebook, Twitter, atau yang lainnya. Semoga menjadi pembukan pintu kebaikan bagi kita semua.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56681-khutbah-jumat-tiga-golongan-yang-tidak-diajak-bicara-oleh-allah-pada-hari-kiamat/